Gorontalo — Universitas Gorontalo membuka Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) 2026 dengan tema Pendidikan Karakter Mo’odelo, Senin, 7 September 2026, di Auditorium Rustam Akili Convention Center. Rektor Universitas Gorontalo Robby Hunawa membuka kegiatan yang diikuti sekitar 1.564 mahasiswa baru tersebut. Mo’odelo merupakan konsep budaya Gorontalo yang bermakna menjadi teladan dalam sikap, perilaku, dan tanggung jawab sosial.
Tema itu bukan pilihan sesaat. Robby sudah menjadikan Mo’odelo sebagai landasan visinya sejak dilantik pada Januari 2026, dan kini menurunkannya menjadi tema penyambutan mahasiswa baru. Penerimaan mahasiswa tahun ini, kata dia, sudah menggunakan sistem digital yang dikendalikan Pusat Komunikasi dan Informasi universitas, dan 1.141 orang di antaranya telah menuntaskan proses administrasi. Ia juga mengingatkan status peserta masih calon mahasiswa hingga hari ketiga kegiatan. “Setelah hari ketiga, Anda akan resmi diterima sebagai mahasiswa-mahasiswi Universitas Gorontalo melalui Rapat Senat Universitas Gorontalo,” ujarnya.
Karakter yang sama ditekankan Ketua Yayasan Duluwo Limo Lo Pohala’a Rolli Paramata dari sisi tata kelola. Ia menegaskan yayasan menjunjung integritas dalam penyelenggaraan pendidikan di kampus tersebut. Mahasiswa baru ia minta menyampaikan laporan bila menemukan praktik pungutan liar selama masa perkuliahan, dan laporan seperti itu menurutnya akan ditindak tegas.
Kepala LLDIKTI Wilayah XVI Munawir Sadzali Razak, yang hadir sebagai narasumber, menyampaikan selamat kepada mahasiswa baru. Universitas Gorontalo ia sebut tercatat sebagai salah satu perguruan tinggi berperingkat baik sekali di wilayah kerja lembaganya yang membina 84 perguruan tinggi di Gorontalo, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Tengah. Sebanyak 12 perguruan tinggi di tiga provinsi itu kini berada pada kategori tersebut. Kampus itu juga ia sebut memiliki doktor terbanyak di Wilayah XVI, sehingga kualifikasi dosennya tergolong baik.
Bertambahnya mahasiswa baru tahun ini ia baca sebagai menguatnya kepercayaan masyarakat, sekaligus modal yang diperlukan sebuah perguruan tinggi untuk terus berkembang. Munawir berharap hal itu berbanding lurus dengan mutu layanan kampus. Kepada mahasiswa baru, ia mengingatkan perubahan status yang baru saja terjadi. “Dengan tambahan kata maha di depan kata siswa, kalian dituntut untuk menjadi lebih dewasa, lebih bijak, lebih bertanggung jawab dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran kalian selama empat tahun ke depan,” ujarnya. Rentang itu ia minta dimanfaatkan tidak hanya untuk menyerap pengetahuan, tetapi juga membangun keterampilan, memperkuat karakter, dan memperluas jejaring.
Pada sesi materi yang ia bawakan setelahnya, Munawir memperkenalkan hak mahasiswa untuk belajar di luar program studi melalui magang, mengajar di sekolah, proyek kemanusiaan, dan studi independen. Ia mencontohkan program pendampingan keluarga pasien tuberkulosis di Sulawesi Tengah yang melibatkan seribu mahasiswa fakultas kesehatan masyarakat dari tujuh kampus, berjalan enam bulan, dan diakui setara lima satuan kredit semester. Skema Rekognisi Pembelajaran Lampau ia jelaskan sebagai jalur pengakuan pengalaman kerja melalui asesmen ketat, bukan jalan pintas memperoleh ijazah.
Bagi LLDIKTI Wilayah XVI, PKKMB menjadi pintu masuk untuk memastikan mahasiswa baru mengenali hak belajar yang melekat pada mereka sejak tahun pertama. Munawir menutup sambutannya dengan meminta mahasiswa baru Universitas Gorontalo memahami seluruh materi PKKMB sebagai bekal empat tahun ke depan, rangkaian yang tahun ini seluruhnya dinaungi tema Pendidikan Karakter Mo’odelo.