Lewati ke konten utama
Berita Kabar LLDIKTI XVI Kabar PTS

UBM Gorontalo Pertemukan Akademisi Lintas Negara Bahas Capaian SDGs

Gorontalo — Universitas Bina Mandiri Gorontalo (UBMG) menggelar The 9th International Interdisciplinary Conference on Sustainable Development Goals (IICSDGs) 2026 di Graha Azizah, Minggu, 20 September 2026. Konferensi bertema “11 Years of the SDGs: Progress, Lessons, and the Road Ahead” ini merupakan penyelenggaraan kesembilan. Kepala LLDIKTI Wilayah XVI Munawir Sadzali Razak hadir langsung menyampaikan sambutan sekaligus membuka kegiatan tersebut.

Tema tersebut merujuk pada perjalanan sebelas tahun sejak Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-70 menyepakati 17 tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) pada 25 September 2015. Dengan waktu tersisa sekitar empat tahun menuju tenggat 2030, konferensi ini menjadi ruang refleksi atas capaian yang sudah diraih sekaligus langkah yang perlu dipercepat. UBMG menghadirkan forum ilmiah internasional ini sebagai wadah pertemuan akademisi, peneliti, pemerintah, dan pelaku industri untuk membahas persoalan pembangunan berkelanjutan. Narasumber tahun ini berasal dari Bataan Peninsula State University, Filipina, serta dari Myanmar dan Amerika Serikat yang bergabung secara daring.

Dalam sambutannya, Munawir menyoroti laporan PBB tentang capaian SDGs yang dirilis sekitar dua bulan sebelumnya. Dari 159 target yang memiliki data tren memadai, hanya 36 persen berada pada jalur pencapaian atau tumbuh moderat, sekitar 49 persen bergerak lambat, dan 15 persen mengalami kemunduran dibanding kondisi tahun 2015. Menurutnya, perguruan tinggi harus bertransformasi dari sekadar knowledge producer (penghasil pengetahuan) menjadi solution provider (penyedia solusi). Munawir menjelaskan, melalui Keputusan Menteri Nomor 358 Tahun 2025, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menetapkan 12 Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi, salah satunya mengukur kontribusi terhadap pencapaian SDGs. Tiga tujuan bersifat wajib, yakni SDG 1 tanpa kemiskinan, SDG 4 pendidikan berkualitas, dan SDG 17 kemitraan untuk mencapai tujuan. Setiap kampus juga dapat memilih dua tujuan lain sesuai keunggulannya. Ia juga mengungkapkan gagasan pembentukan konsorsium perguruan tinggi di Gorontalo. “Untuk Gorontalo, kita sedang menggagas konsorsium perguruan tinggi yang menyatukan keahlian dan talenta di perguruan tinggi Gorontalo, agar bersama-sama menyelesaikan persoalan masyarakat Gorontalo — khususnya kemiskinan, lingkungan, dan pendidikan,” kata Munawir. Ia menambahkan, LLDIKTI Wilayah XVI berkomitmen mendampingi dan menjadi mitra strategis dalam menindaklanjuti hasil konferensi, termasuk membangun kerja sama antar-perguruan tinggi dan menghubungkan riset dengan prioritas pembangunan daerah.

Rektor Universitas Bina Mandiri Gorontalo Titin Dunggio menyebut konferensi ini sebagai komitmen akademik dan tanggung jawab sosial UBMG untuk berkontribusi pada masalah yang dihadapi masyarakat daerah, bangsa, hingga dunia. “Potret pembangunan tidak hanya diukur dari majunya ekonomi, bertambahnya infrastruktur, dan bertumbuhnya investasi, tetapi juga harus memastikan manusia adalah pusat dari pembangunan itu sendiri,” ujarnya. Ia berharap forum tersebut memperkuat kolaborasi lintas disiplin antara akademisi, pemerintah, dan pelaku industri. Turut hadir sebagai pembicara kunci Herie Saksono, Peneliti Ahli Utama pada Organisasi Riset Tata Kelola, Pemerintahan, Ekonomi, dan Kesejahteraan Masyarakat, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Melalui konsorsium dan pendampingan tersebut, LLDIKTI Wilayah XVI mendorong riset dan kerja sama antar-kampus di Gorontalo agar benar-benar berdampak pada penanggulangan kemiskinan, isu lingkungan, dan peningkatan mutu pendidikan di daerah.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib diisi ditandai dengan *