Lewati ke konten utama
Berita Kabar LLDIKTI XVI Kabar PTS

Mahasiswa Pascasarjana Unbita Diajak Membangun Birokrasi yang Tangkas dan Tepat Arah

Gorontalo — Kepala LLDIKTI Wilayah XVI Munawir Sadzali Razak memberikan kuliah umum bertema “Kepemimpinan Sektor Publik yang Agile dalam Menggerakkan Kolaborasi Lintas Sektor untuk Pelayanan yang Responsif dan Berintegritas” di hadapan mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Bina Taruna (Unbita) Gorontalo. Kegiatan tersebut dibuka Rektor Unbita Ellys Rahman dan turut dihadiri jajaran Yayasan Bina Taruna Gorontalo serta pengelola program pascasarjana. Acara berlangsung pada Sabtu, 19 September 2026, di Aula Lantai 3 Kampus Unbita secara hybrid.

Mayoritas mahasiswa pascasarjana Unbita merupakan aparatur sipil negara (ASN) yang telah menduduki jabatan pengawas, administrator, hingga pimpinan tinggi pratama. Munawir menilai, latar belakang ini menjadi alasan pentingnya mempelajari ilmu administrasi publik di jenjang magister, yaitu agar mahasiswa mampu mengenali kelemahan birokrasi dan membenahinya di instansi masing-masing.

Berbekal pengalaman 20 tahun sebagai ASN dan riset disertasinya, Munawir meluruskan anggapan bahwa birokrasi yang tangkas sebatas bergerak cepat atau beralih ke aplikasi digital. Menurutnya, sebuah organisasi bisa saja melaju kencang, tetapi menuju arah yang salah. Sistem pengaduan daring, misalnya, hanyalah alat, sebab yang menentukan adalah kesediaan pegawai menanggapi setiap aduan.

Hal lain yang turut disinggung Munawir adalah kolaborasi lintas sektor yang juga melibatkan perguruan tinggi. “Ukuran kolaborasi bukan jumlah MoU, bukan jumlah rapat yang dilaksanakan, bukan berapa jumlah institusi yang hadir, tapi pertanyaannya dengan kolaborasi, hasil apa yang kita bisa hasilkan bersama,” tegasnya. Ia mencontohkan konsorsium perguruan tinggi di Sulawesi Tengah yang menurunkan mahasiswa keperawatan dan kesehatan masyarakat untuk mendampingi pasien tuberkulosis selama enam bulan, dengan pengakuan setara lima satuan kredit semester. Pendekatan serupa kini dibangun di Gorontalo bersama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Gorontalo, bertolak dari persoalan tengkes dan gizi, kekurangan guru di sejumlah daerah, hingga persampahan.

Di bagian akhir, Munawir menekankan pelayanan yang berangkat dari sudut pandang warga. Masyarakat tidak semestinya dipaksa memahami rumitnya struktur birokrasi untuk memperoleh solusi, seperti yang ditunjukkan layanan terpadu berbasis peristiwa hidup LifeSG di Singapura dan GOV.UK di Inggris. Ujungnya adalah kepercayaan publik. Munawir menjadikan keyakinan pimpinan perguruan tinggi dan dosen bahwa urusan mereka tidak akan dipersulit sebagai tolok ukur keberhasilan kepemimpinannya di LLDIKTI Wilayah XVI.

Harapan senada disampaikan Ellys saat membuka kegiatan. Ia menegaskan penerimaan mahasiswa, baik jalur reguler maupun Rekognisi Pembelajaran Lampau, dijalankan sesuai aturan kementerian, dengan para asesor yang pemahamannya atas regulasi terus diperbarui setiap semester. Kampus yang berdiri sejak 2009 itu, katanya, menerima mahasiswa yang umumnya sudah berkompetensi, sehingga peran kampus adalah memberi penguatan. Ellys berharap mahasiswa menjadi katalisator kolaborasi, terbuka terhadap inovasi, berani mengambil keputusan yang terukur, menjaga integritas, serta menjadi teladan pelayanan yang responsif. Ia pun meminta materi yang dibawakan Munawir dibukukan. “Saya berharap kajian agile ini bisa dibuatkan dalam bentuk buku. Tentunya menambah referensi kita di perguruan tinggi,” ujarnya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib diisi ditandai dengan *