Lewati ke konten utama
Berita Kabar LLDIKTI XVI

Transformasi Kurikulum dan Penguasaan AI Kunci Daya Saing Lulusan

Manado – Kepala LLDIKTI Wilayah XVI Munawir Sadzali Razak mengajak perguruan tinggi meninjau ulang kurikulum dan metode pembelajaran agar lulusan tetap relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Ajakan itu disampaikan pada kegiatan bertajuk “Future-Ready Leaders: Human + AI” di Aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sam Ratulangi Manado, Senin, 10 Agustus 2026. Kegiatan tersebut merupakan Campus Day, hari pertama rangkaian Manado Marketing Festival 2026 yang mengusung tema “Winning the Competition in the Age of AI“.

Kegiatan ini dihadiri Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Sam Ratulangi Arthur G. Pinaria yang mewakili Rektor, jajaran Dekan dan Wakil Dekan, serta dosen dan mahasiswa. Pendiri MarkPlus Institute Hermawan Kartajaya dalam sambutannya menyoroti tiga hal, yaitu perlunya penyesuaian kurikulum di tengah laju perkembangan teknologi, penguatan pemasaran berbasis semangat kewirausahaan, serta terbukanya kerja sama lintas bidang yang melibatkan kalangan profesi dan praktisi. Arthur G. Pinaria menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut dan berharap pertemuan itu berlanjut menjadi kerja sama nyata dalam pengembangan sumber daya manusia di Universitas Sam Ratulangi.

Di hadapan peserta, Munawir menggambarkan dunia yang kini bergerak penuh gejolak, tidak pasti, kompleks, dan ambigu, atau yang dikenal dengan istilah VUCA. Situasi tersebut menuntut perguruan tinggi memastikan dirinya tetap relevan sekaligus adaptif. Ia menilai apa yang selama ini diajarkan di ruang kelas belum tentu masih dibutuhkan dunia kerja, sehingga peninjauan kurikulum dan metode pembelajaran menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Lulusan pun dituntut terus meningkatkan keterampilan dan bersedia menempuh pelatihan ulang seiring munculnya jenis pekerjaan yang sama sekali baru.

Keterampilan yang paling menentukan ke depan, menurut Munawir, tidak berhenti pada kemampuan teknis. Kecakapan menyelesaikan masalah yang kompleks, berpikir kreatif, membangun interaksi sosial, dan mengelola kecerdasan emosional justru semakin dicari dunia usaha, berdampingan dengan penguasaan kecerdasan buatan. Ia menambahkan, ijazah dan indeks prestasi tetap penting, namun sertifikasi keahlian serta Surat Keterangan Pendamping Ijazah kini menjadi pengungkit daya tawar lulusan ketika memasuki pasar kerja.

Konsekuensinya, kata Munawir, cara mengajar pun harus bergeser. Mahasiswa hari ini memperoleh informasi secara instan melalui berbagai layanan AI, sehingga dosen tidak lagi berdiri sebagai satu-satunya sumber ilmu, melainkan mitra belajar yang menjaga pembentukan karakter. Ia mendorong pembelajaran yang partisipatif, kolaboratif, dan berpusat pada mahasiswa melalui pendekatan berbasis proyek, dengan ruang lebih luas bagi mahasiswa untuk menghadapi persoalan nyata di lapangan. Pendekatan serupa, lanjutnya, sudah diterapkan di lingkungan LLDIKTI Wilayah XVI yang memanfaatkan teknologi tersebut untuk memetakan prioritas pembinaan terhadap 84 perguruan tinggi swasta di tiga provinsi.

Di penghujung sesi, Munawir menyampaikan satu pesan kepada seluruh peserta. “AI kemungkinan besar tidak akan menggantikan kita, tapi kita akan digantikan oleh orang lain yang lebih menguasai AI ” katanya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib diisi ditandai dengan *