Manado – Kepala LLDIKTI Wilayah XVI Munawir Sadzali Razak menegaskan bahwa hambatan terbesar dalam pengelolaan jurnal ilmiah di perguruan tinggi bukan soal teknis sistem atau anggaran, melainkan komitmen. Pernyataan itu ia sampaikan saat membuka Workshop Pengelolaan Open Journal System (OJS), Rabu, 12 Agustus 2026, di Aula Universitas Trinita, yang diikuti dosen dari sejumlah perguruan tinggi swasta di Sulawesi Utara.
Kegiatan ini dibuka dengan laporan Ketua Panitia sekaligus Ketua Tim Kerja Penguatan Mutu Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat LLDIKTI Wilayah XVI Novel Acub Umar, yang berharap workshop ini mampu meningkatkan jumlah jurnal bereputasi dan terindeks di kalangan perguruan tinggi peserta. Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Sulawesi Utara Merry J.J. Langi turut memberi sambutan. Ia menyampaikan keinginan menjalin kolaborasi antara APTISI dan LLDIKTI Wilayah XVI, termasuk komunikasi yang telah dibangunnya dengan perguruan tinggi negeri untuk bersama-sama meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan tinggi di Sulawesi Utara.
Munawir memaparkan bahwa basis data Sinta saat ini telah mencatat lebih dari 16 ribu jurnal terindeks secara nasional, capaian yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan jurnal ilmiah tercepat di kawasan Asia Pasifik. Namun ketika data itu diturunkan ke tingkat wilayah kerja LLDIKTI XVI, jumlah jurnal yang terindeks Sinta baru mencapai 87 judul, dan sebagian di antaranya berada pada peringkat yang kini telah dihapus dari sistem indeksasi terbaru. Ia menambahkan masih ada beberapa perguruan tinggi yang belum memiliki atau mengelola jurnal ilmiah.
Bagi Munawir, mengelola jurnal ilmiah bukan sekadar memenuhi syarat akreditasi, melainkan soal martabat akademik sebuah perguruan tinggi sebagai produsen, bukan hanya konsumen, ilmu pengetahuan. Ia menjabarkan tiga manfaat nyata dari pengelolaan jurnal yang baik: bagi dosen, publikasi pada jurnal bereputasi memperkuat penilaian kinerja dan mempercepat kenaikan jabatan akademik; bagi perguruan tinggi, jurnal yang dikelola konsisten mengangkat reputasi dan visibilitas kampus hingga ke tingkat internasional, sekalipun lokasinya jauh dari Pulau Jawa maupun ibu kota provinsi; dan bagi pemerintah daerah, jurnal yang berfokus pada isu lokal seperti pertanian, kelautan, kesehatan, atau budaya dapat menjadi rujukan kebijakan.
Munawir menegaskan bahwa kendala teknis OJS, keterbatasan anggaran, atau sumber daya bukanlah akar persoalan yang sesungguhnya. “Hambatan utama dalam mengelola jurnal bukan cuma soal teknis OJS-nya, soal anggarannya, atau penempatan sumber dayanya, tapi hambatan terbesar adalah komitmen,” ujarnya.
Sebagai tindak lanjut, Munawir meminta panitia membentuk grup komunikasi untuk memantau perkembangan setiap perguruan tinggi secara berkala, dengan rencana memberikan apresiasi kepada kampus yang berhasil membangun dan konsisten menerbitkan jurnal bereputasi pascakegiatan ini. Ia berpesan agar peserta memanfaatkan pendampingan teknis dari narasumber semaksimal mungkin, sehingga workshop ini benar-benar melahirkan langkah nyata bagi peningkatan mutu jurnal ilmiah di lingkungan perguruan tinggi swasta Sulawesi Utara.