Tomohon – Empat tahun lagi, Indonesia diproyeksikan mencapai puncak bonus demografi, periode ketika sebagian besar penduduknya berada pada usia produktif. Bagi Kepala LLDIKTI Wilayah XVI Munawir Sadzali Razak, peluang besar itu hanya akan berbuah bila generasi muda hari ini benar-benar disiapkan menjadi lulusan yang berkualitas, bukan sekadar berbekal indeks prestasi tinggi. Pesan tersebut ia sampaikan saat menjadi narasumber kuliah tamu di Universitas Sariputra Indonesia Tomohon, Selasa pagi, 11 Agustus 2026, yang mengusung tema “Mahasiswa Berdampak: Berkualitas, Berintegritas, dan Menghadirkan Solusi Nyata bagi Masyarakat menuju Indonesia Emas 2045”.
Kuliah tamu yang digelar di halaman kampus tersebut menandai dibukanya perkuliahan semester ganjil tahun akademik 2026/2027, diikuti mahasiswa semester satu dan semester tiga bersama pimpinan struktural serta dosen. Rektor Universitas Sariputra Indonesia Tomohon Anggela A. Adam menyebut forum semacam ini sengaja dirancang pada setiap awal semester agar mahasiswa memperoleh wawasan di luar ruang kelas. Ia mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan seorang mahasiswa tidak berhenti pada nilai. “Menjadi mahasiswa yang berdampak itu adalah kita benar-benar bisa berguna, baik di dalam maupun di luar kampus, atau kita bisa memberikan kontribusi yang nyata,” ujar Anggela A. Adam. Ia juga mengulang empat kemampuan yang telah dibekalkan pada masa pengenalan kampus, yaitu berpikir kritis, komunikasi, kreativitas, dan kolaborasi.
Membuka materinya, Munawir justru berbicara soal keyakinan diri. Ia meminta mahasiswa tidak berkecil hati karena kampusnya berada jauh dari ibu kota provinsi, apalagi dari Pulau Jawa. Sebagai bukti, ia menyebut salah satu dosen di kampus tersebut yang program pengabdian masyarakatnya memperoleh rekognisi dari kementerian. Dari titik itu Munawir menautkan tema kegiatan pada arah kebijakan nasional. Semangat dampak yang diusung universitas, menurutnya, sejalan dengan arah kementerian sejak 2025 yang mengedepankan pendidikan tinggi, sains, dan teknologi yang berdampak. Perguruan tinggi tidak lagi diukur sebatas keluaran dan mutu, melainkan sejauh mana manfaatnya sampai ke masyarakat.
Bonus demografi sendiri, jelas Munawir, adalah kondisi ketika penduduk usia produktif mendominasi struktur kependudukan suatu negara, dan Indonesia diproyeksikan mengalami puncaknya pada rentang tahun 2030 hingga 2035. Mahasiswa yang kini duduk di bangku kuliah adalah generasi yang akan memikul pembangunan pada masa itu. Persoalannya, kemajuan teknologi terus menggeser peta pekerjaan sebelum momentum itu tiba. Pekerjaan yang bersifat rutin satu per satu diambil alih mesin, sementara pekerjaan baru bermunculan dan menuntut kompetensi yang belum tentu dimiliki lulusan hari ini. Di situlah Munawir menyoroti jarak antara kemampuan yang dibawa lulusan dan kebutuhan dunia usaha.
Kualitas seorang lulusan, karena itu, tidak lagi cukup diwakili indeks prestasi. Munawir menilai dunia kerja kini lebih dahulu menakar apakah seseorang sanggup menyelesaikan persoalan yang dihadapkan kepadanya. Nilai akademik yang tinggi kehilangan artinya bila pemiliknya tidak mampu bekerja sama dalam tim, menyampaikan gagasan, memimpin, atau menjalin komunikasi. Kemampuan teknis tetap wajib dikuasai, seorang perawat misalnya harus menguasai teknik keperawatan dasar, namun bekal itu saja belum memadai. Ia meminta mahasiswa menumbuhkan empati, sikap saling memahami, berpikir kritis, dan kecakapan memecahkan masalah yang kompleks sejak masa kuliah. Ijazah dan nilai bagus mungkin memudahkan seseorang memperoleh pekerjaan pertama, tetapi yang menentukan ketika menapaki jenjang karier adalah kemampuan beradaptasi, melayani orang lain, dan berkomunikasi dengan baik. Keterampilan semacam itu, menurut Munawir, justru semakin sulit ditemukan dan hanya tumbuh bila dilatih dengan sungguh-sungguh.
Sejalan dengan itu, Munawir menekankan dua bekal dasar yang wajib disiapkan sejak masa kuliah, yaitu penguasaan bahasa asing dengan bahasa Inggris sebagai syarat minimal, serta literasi digital termasuk memanfaatkan kecerdasan buatan untuk hal yang lebih bermakna daripada sekadar menyalin jawaban tugas. Ia mencontohkan tingginya kebutuhan tenaga keperawatan profesional di sejumlah negara yang telah memasuki masyarakat lanjut usia, peluang yang menurutnya belum banyak terisi lulusan Indonesia karena terganjal syarat bahasa. Ia juga menyampaikan bahwa dirinya dipercaya menjadi anggota gugus tugas yang dibentuk kementerian untuk mendorong perguruan tinggi menyiapkan alumninya menembus pasar kerja internasional. “Ketika nanti kalian lulus dari kampus, tidak semuanya akan bekerja sesuai dengan bidangnya. Dan tidak semua yang kalian pelajari ketika kuliah itu yang akan kalian gunakan ketika bekerja,” katanya menutup materi.