Lewati ke konten utama
Berita Kabar LLDIKTI XVI Kabar PTS

Bekal Mahasiswa Baru Unisan Tidak Berhenti pada Ijazah dan IPK

Gorontalo — Kepala LLDIKTI Wilayah XVI Munawir Sadzali Razak mengingatkan mahasiswa baru Universitas Ichsan Gorontalo bahwa gelar dan indeks prestasi kumulatif yang tinggi belum menjamin seseorang mudah memperoleh pekerjaan. Pesan itu ia sampaikan melalui materi “Pengenalan Sistem Pendidikan Tinggi di Indonesia” pada Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Unisan Gorontalo, Senin, 31 Agustus 2026, di pelataran kampus.

Munawir mendasarkan pernyataan itu pada data pendidikan tinggi nasional. Jumlah mahasiswa di Indonesia mencapai 10.754.000 orang, dan sekitar 2,5 juta di antaranya berganti status menjadi alumni setiap tahun. Jumlah sebesar itu, menurutnya, kerap tidak seimbang dengan lapangan kerja yang tersedia. Pengangguran terbuka berpendidikan tinggi kini melampaui satu juta orang, sehingga lulus dari perguruan tinggi tidak otomatis berujung pada pekerjaan.

Di Gorontalo terdapat 15 perguruan tinggi, terdiri atas 12 perguruan tinggi swasta, satu perguruan tinggi negeri, satu perguruan tinggi keagamaan, dan satu perguruan tinggi di bawah kementerian lain. Tidak semua anak muda memperoleh kesempatan masuk ke dalamnya. Angka partisipasi kasar pendidikan tinggi secara nasional hanya 32,9 persen, sementara Gorontalo mencapai 37 persen. Artinya, dari tiga anak muda pada usia kuliah, hanya satu yang berkesempatan menempuh pendidikan tinggi. Munawir meminta kesempatan itu tidak disia-siakan. Bangku kuliah, menurutnya, adalah ruang meningkatkan kualitas diri, membuka peluang karier, mengasah cara berpikir kritis dan analitis, membangun karakter, sekaligus memperluas jejaring melalui organisasi kemahasiswaan.

Munawir menjelaskan tiga jenis pendidikan tinggi di Indonesia, yaitu akademik, vokasi, dan profesi. Pendidikan akademik berkomposisi 70 persen teori dan 30 persen praktik, vokasi menekankan keterampilan kerja tertentu, sedangkan profesi ditempuh setelah menyelesaikan program sarjana. Bentuk penyelenggaranya juga berbeda, mulai dari universitas dengan minimal lima program studi lintas rumpun ilmu, institut dengan minimal tiga program studi, sekolah tinggi yang menyelenggarakan satu rumpun ilmu, hingga politeknik yang berbasis vokasi. Ia menambahkan, proses belajar tidak dibatasi ruang kelas. Mahasiswa berhak mengambil pembelajaran di luar program studi seperti magang, studi independen, kuliah kerja nyata tematik, proyek kemanusiaan, dan pertukaran mahasiswa, serta memanfaatkan pembelajaran daring yang porsinya dibatasi maksimal 50 persen kecuali memperoleh izin kementerian.

Keterampilan nonteknis atau soft skill ia sebut sebagai faktor paling dominan. Munawir mengutip sejumlah survei yang menunjukkan 75 hingga 85 persen keberhasilan lulusan perguruan tinggi di dunia kerja ditentukan penguasaan keterampilan tersebut, mulai dari komunikasi, kerja tim, kepemimpinan, berpikir kritis, penyelesaian masalah yang kompleks, hingga kolaborasi. Literasi digital dan kemampuan memanfaatkan kecerdasan buatan secara bertanggung jawab juga ia sebut sudah wajib dimiliki mahasiswa. “Jadi tolong dicatat, kuliah di Unisan jangan cuma mengejar gelar, ijazah, dan IPK, tapi pastikan kalian selama kuliah di Unisan itu juga belajar soft skill,” ujarnya. Ia meminta mahasiswa menumbuhkan growth mindset atau pola pikir berkembang, yakni keyakinan bahwa tidak ada hal yang tidak bisa dipelajari selama disertai ketekunan.

Tanggung jawab tidak seluruhnya berada di pundak mahasiswa. Munawir menjelaskan bahwa kementerian mewajibkan perguruan tinggi memastikan kampusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk belajar. Aturan yang semula berfokus pada kekerasan seksual itu diperluas melalui Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 55 Tahun 2024 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi, sehingga kini mencakup pula kekerasan verbal dan fisik. Ia menegaskan mahasiswa laki-laki maupun perempuan sama-sama berpotensi menjadi korban. Munawir juga menempatkan mahasiswa baru sebagai investasi bangsa yang akan berada pada usia produktif saat Indonesia Emas 2045.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib diisi ditandai dengan *