Tomohon – Kepala LLDIKTI Wilayah XVI Munawir Sadzali Razak mengajak mahasiswa baru Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Gunung Maria Tomohon menggunakan kecerdasan buatan secara cerdas, etis, dan bertanggung jawab tanpa kehilangan sisi kemanusiaan. Pesan itu disampaikan pada sesi siang Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru di kampus tersebut, Selasa, 11 Agustus 2026, setelah pagi harinya ia mengisi kuliah tamu di Universitas Sariputra Indonesia Tomohon. Bagi calon tenaga kesehatan, katanya, secanggih apa pun teknologi berkembang, pusat dari seluruh sistem layanan kesehatan tetap manusia dan pasiennya.
Kegiatan ini dihadiri Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Gunung Maria Tomohon Henny Pongantung, jajaran dosen, tenaga kependidikan, serta 305 mahasiswa baru. Munawir memberi selamat karena mahasiswa diterima di kampus dengan dua program studi, yaitu Prodi Sarjana Keperawatan dan Prodi Profesi Ners, yang telah meraih predikat unggul dari Lembaga Akreditasi Mandiri Perguruan Tinggi Kesehatan. Predikat itu, menurutnya, baru diraih segelintir program studi dari ratusan yang dibina LLDIKTI Wilayah XVI di tiga provinsi, sehingga layak menjadi kebanggaan seluruh civitas akademika kampus.
Kecerdasan buatan, tegasnya, semestinya diposisikan sebagai pendamping yang membantu, bukan kendali penuh yang mengambil alih keputusan, relevansi teknologi itu pun diuraikannya pada lima program studi yang ada di kampus tersebut, mulai dari proyeksi risiko keselamatan kerja, asuhan keperawatan berbasis data, analisis data klinis, hingga pengambilan keputusan manajemen rumah sakit. Program-program studi itu akan semakin saling bergantung dalam ekosistem kesehatan digital ke depan, sehingga kemampuan berkolaborasi lintas profesi menjadi keterampilan yang tidak kalah penting.
Kecerdasan buatan, lanjut Munawir, tidak selalu benar dan dapat memberikan jawaban keliru yang disampaikan dengan meyakinkan, sehingga setiap jawaban perlu selalu diperiksa ulang sebelum digunakan. Keterampilan yang paling dibutuhkan tenaga kesehatan, ujarnya, bukan sekadar penguasaan teknologi, melainkan empati dalam merawat pasien, kemampuan yang tidak tergantikan oleh mesin secanggih apa pun.
Di penghujung materinya, ia kembali menegaskan bahwa penguasaan teknologi tidak boleh menggantikan kendali dan kepekaan mahasiswa sendiri sebagai calon tenaga kesehatan. “Jangan serahkan otak Anda kepada AI. AI untuk mendampingi, bukan untuk mengambil alih,” pungkasnya.
Terima Kasih Pak Munawir Untuk suport dan gagasan baru bagi mahasiswa baru kami, salam Cerdas