Gorontalo, 5 Maret 2026 – Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XVI secara resmi menjalin kolaborasi strategis dengan jajaran Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) di wilayah Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Gorontalo. Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) ini dilaksanakan terpusat di Kantor Basarnas Gorontalo sebagai langkah konkret memperkuat kesiapsiagaan menghadapi tantangan geografis dan risiko bencana di wilayah Gosulutteng.
Dalam kegiatan ini, penandatanganan dilakukan serentak oleh Kantor Basarnas Kelas A Manado, Kantor Basarnas Kelas B Palu, dan Kantor Basarnas Kelas B Gorontalo. Sinergi ini bertujuan menyatukan potensi dunia akademik dengan otoritas SAR dalam menangani kerentanan bencana, terutama di wilayah pesisir dan kawasan tektonik aktif yang menjadi karakteristik wilayah kerja LLDIKTI XVI.
Kepala Kantor Basarnas Kelas A Manado, George L.M. Randang, yang mewakili Kepala Kantor Basarnas Palu dan Gorontalo, menegaskan bahwa kolaborasi ini bukan sekadar seremoni administratif. Mengingat kondisi geografis Sulawesi yang menantang, dukungan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) dari perguruan tinggi sangat dibutuhkan dalam operasi SAR. Basarnas membuka ruang bagi dosen dan mahasiswa untuk terlibat dalam inovasi teknologi terapan, seperti pengembangan drone rescue hingga alat komunikasi di area blank spot.
“Perguruan tinggi memiliki keunggulan riset dan SDM, sementara Basarnas punya pengalaman empiris di lapangan. Kolaborasi ini akan menghasilkan inovasi yang aplikatif untuk mitigasi bencana, berkaca pada kasus besar seperti likuifaksi di Palu yang memerlukan kajian akademis mendalam,” ujar George.
Kepala LLDIKTI Wilayah XVI, Munawir Sadzali Razak, menyampaikan apresiasi atas realisasi kerja sama ini. Kolaborasi tersebut merupakan langkah strategis untuk menerjemahkan kebijakan tingkat nasional ke dalam aksi nyata yang relevan dengan kebutuhan daerah. Hal ini dinilai sangat penting mengingat wilayah Sulawesi Utara, Tengah, dan Gorontalo berada di kawasan Ring of Fire yang memiliki risiko tinggi terhadap bencana gempa bumi, banjir, hingga erupsi gunung berapi.
Implementasi kerja sama ini nantinya difokuskan pada tiga pilar Tridharma Perguruan Tinggi yang sejalan dengan semangat Kampus Berdampak. Pada aspek pendidikan, akan dilakukan pelatihan Basic SAR bagi mahasiswa, khususnya kelompok Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) dan rumpun kesehatan. Di bidang penelitian, dosen didorong menciptakan alat mitigasi modern, sementara pada pengabdian masyarakat, mahasiswa akan diterjunkan melalui KKN Tematik Kebencanaan untuk membentuk relawan desa tangguh bencana. Seluruh aktivitas ini dirancang agar kehadiran perguruan tinggi memberikan dampak nyata bagi keamanan dan keselamatan masyarakat.