PALEMBANG (13/02) – Penguatan tata kelola sumber daya manusia (SDM) perguruan tinggi menjadi agenda krusial dalam Rapat Koordinasi Nasional Pimpinan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) se-Indonesia di Hotel Wyndham Opi Palembang, Jumat (13/02). Direktur Sumber Daya Ditjen Kemdiktisaintek, Sri Suning Kusumawardani, menegaskan bahwa LLDikti harus menjadi garda terdepan dalam membangun ekosistem karier dosen yang lebih humanis dan akuntabel.
Dalam paparannya, Sri Suning menekankan pentingnya membangun budaya kerja yang sehat di lingkungan perguruan tinggi. Ia menyoroti redefinisi peran “Dosen Tetap” yang kini lebih fleksibel berbasis pada aktivitas Tridharma dan beban kerja minimal 12 SKS. Selain itu, pimpinan LLDikti diminta memberikan edukasi kepada dosen terkait pembaruan sistem SISTER agar tidak terburu-buru melakukan validasi data demi menghindari ketidakakuratan sistem selama masa pengembangan. Hal ini dilakukan untuk menjamin bahwa setiap proses promosi jabatan akademik tetap berada dalam koridor teknis yang adil dan sesuai substansi.
Terkait hal ini, Munawir Razak mendorong adanya kesetaraan layanan bagi semua dosen tanpa melihat lokasi tugasnya. Beliau ingin menyederhanakan aturan agar tidak ada lagi kebingungan di kalangan dosen saat membahas prosedur administrasi.
“Aspirasi kami adalah hadirnya aturan main yang sama untuk pencairan Serdos di mana pun berada. Keseragaman ini penting agar dosen merasa tenang dan mendapatkan haknya tepat waktu. Dengan sistem yang padu, dosen bisa lebih tenang bekerja dan memberikan yang terbaik bagi mahasiswa tanpa terbebani urusan teknis yang berbeda-beda,” jelas Munawir.
Di sela diskusi, Munawir menceritakan bagaimana LLDikti Wilayah XVI belajar dan tumbuh bersama wilayah lain melalui pemanfaatan teknologi. Dengan mengadaptasi sistem yang sudah teruji dari rekan sejawat, LLDikti Wilayah XVI berupaya menghadirkan administrasi yang lebih rapi bagi para dosen di wilayahnya. “Semangatnya satu: agar semua proses kerja menjadi lebih terbuka dan manfaatnya benar-benar dirasakan oleh para pendidik.
Sebagai langkah konkret, forum menyepakati strategi “Jemput Bola” melalui pembersihan data (data cleansing) bagi dosen berkualifikasi D4/S1 serta akselerasi pengajuan Jabatan Fungsional Pertama. Langkah ini dinilai strategis untuk memperluas jangkauan penerima Serdos sejalan dengan rencana kementerian dalam meningkatkan serapan kuota nasional. Munawir Razak menegaskan bahwa sinergi antara kebijakan pusat yang lebih fleksibel dan inovasi layanan di daerah adalah kunci untuk meningkatkan kesejahteraan dosen secara menyeluruh.