Berita Kabar LLDIKTI XVI

Bukan Jargon, Ini Empat Strategi LLDIKTI Wilayah XVI Agar Kampus Berdampak Nyata

GORONTALO – Diskusi strategis mengemuka di studio RRI Gorontalo pada Senin pagi (2/2/2026), saat Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XVI membedah makna sesungguhnya dari “Kampus Berdampak”. Kepala LLDIKTI Wilayah XVI, Munawir Sadzali Razak, menegaskan bahwa konsep ini bukan sekadar slogan kosong, melainkan sebuah transformasi total.

Menurut Munawir, pilar pertama dan yang paling mendasar adalah pergeseran paradigma. Kampus harus menanggalkan mentalitas “menara gading” yang eksklusif. Indikator keberhasilan perguruan tinggi kini tidak lagi diukur dari tumpukan jurnal di perpustakaan, melainkan seberapa besar riset tersebut menjadi solusi konkret atas masalah yang dihadapi masyarakat.

Semangat transformasi ini diterjemahkan secara teknis oleh Direktur Politeknik Gorontalo, Ismail Mohidin, yang menyoroti pilar kedua: implementasi teknologi tepat guna. Dalam dialog tersebut, Ismail mencontohkan bagaimana mahasiswa vokasi tidak hanya berkutat dengan teori, tetapi turun langsung menciptakan aplikasi digital untuk membantu digitalisasi UMKM lokal agar naik kelas.

Namun, dampak sesaat saja tidak cukup. Ketua APTISI Wilayah Gorontalo, Azis Rachman, menekankan pentingnya pilar ketiga: keberlanjutan. Ia menggarisbawahi bahwa pengabdian masyarakat tidak boleh bersifat sesaat (hit and run). Melalui program Desa Binaan yang dikelola bertahun-tahun, kampus dapat mengerahkan berbagai jurusan-mulai dari kesehatan hingga ekonomi-guna menyelesaikan masalah desa secara tuntas.

Mata rantai terakhir adalah sinergi kebijakan. Rektor Universitas Ichsan Gorontalo Utara, Fatmah M. Ngabito, sepakat bahwa inovasi kampus seringkali terhambat komunikasi. Oleh karena itu, pilar keempat adalah kolaborasi sejak dini. Kampus didorong proaktif “duduk satu meja” dengan pemerintah daerah agar hasil pemikiran akademisi benar-benar diadopsi menjadi landasan kebijakan publik.

Menutup diskusi, Munawir menyimpulkan bahwa jika keempat pilar ini berjalan serentak, maka perguruan tinggi akan benar-benar menjadi mesin penggerak kemajuan daerah menuju Indonesia Emas 2045.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib diisi ditandai dengan *