Berita Kabar LLDIKTI XVI

Kemdiktisaintek Kerahkan 10.000 Mahasiswa untuk Percepat Pemulihan Pasca-Bencana di Sumatera

Jakarta – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) resmi meluncurkan Program Mahasiswa Berdampak 2026 sebagai langkah konkret pemulihan dini pasca-bencana di wilayah Sumatera. I Ketut Adnyana dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat menjelaskan bahwa program ini dirancang khusus untuk membantu masyarakat di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang terdampak banjir bandang dan tanah longsor. Melalui gerakan ini, kementerian menargetkan pengerahan 10.000 mahasiswa untuk hadir di tengah masyarakat guna membangkitkan kembali semangat dan daya juang warga yang tengah berupaya bangkit dari krisis.

Program ambisius ini menempatkan mahasiswa sebagai garda terdepan dalam fase early recovery atau pemulihan awal. Fidela Marwa Huwaida, Tenaga Ahli Staf Khusus Menteri, menyatakan bahwa para mahasiswa akan menetap selama satu bulan penuh di lokasi bencana untuk membawa solusi berbasis inovasi. Pendekatan ini menggunakan model pemberdayaan masyarakat yang terintegrasi, di mana mahasiswa diharapkan mampu menjembatani masa transisi dari tanggap darurat menuju pemulihan sosial-ekonomi yang berkelanjutan dan tepat sasaran.

Secara teknis, pemberdayaan ini mencakup aspek-aspek krusial seperti ketahanan pangan, pemulihan ekonomi melalui UMKM, layanan kesehatan, hingga rehabilitasi infrastruktur dasar. Wisnu Nur Cahyo, narasumber Tim Pakar, memaparkan bahwa setiap usulan program harus melibatkan minimal 50 mahasiswa dari sekurang-kurangnya tiga program studi yang berbeda. Sinergi multidisiplin ini bertujuan agar mahasiswa dapat menyerap kebutuhan masyarakat secara riil dan menerapkan ilmu pengetahuan yang relevan dengan kondisi lapangan selama minimal 160 jam kerja efektif.

Untuk mendukung gerakan tersebut, pemerintah membuka skema pendanaan proposal maksimal sebesar 120 juta rupiah per usulan melalui laman BIMA. Yohana Sutiknyawati Kusumadewi dari Tim Pakar menekankan bahwa minimal 50 persen dari total anggaran wajib dialokasikan untuk penyediaan teknologi dan inovasi bagi mitra sasaran. Sementara itu, I Wayan Kariasa dari Tim Pakar mengingatkan para pengusul untuk segera memetakan kebutuhan mitra berdasarkan data baseline yang akurat, sehingga setiap intervensi yang dilakukan memiliki indikator keberhasilan yang terukur dan berdampak nyata.

Sebagai perpanjangan tangan kementerian, LLDIKTI Wilayah XVI memandang program ini sebagai peluang emas bagi Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di wilayahnya untuk menunjukkan kontribusi nyata di kancah nasional. Kolaborasi antara Dosen Tetap Yayasan dan mahasiswa dalam aksi kemanusiaan ini tidak hanya menjadi ajang pengabdian, tetapi juga merupakan implementasi nyata dari pendidikan yang responsif terhadap permasalahan bangsa. Dengan keterlibatan aktif dalam pemulihan Sumatera, diharapkan lahir generasi intelektual yang tangguh dan memiliki empati sosial tinggi dalam membangun kembali ketangguhan komunitas pasca-bencana.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib diisi ditandai dengan *